::Selamat datang di blog resmi Himpunan Mahasiswa Departemen Sastra Indonesia Universitas Airlangga.::

Rabu, 13 Juli 2011

TANHA, KEKASIH YANG TERLUPA KARYA S. JAI


Judul : TANHA, Kekasih yang Terlupa

Penulis : S. Jai

Penerbit : Jogja Mediautama

Cetakan : Pertama, Juni 2011

Tebal : 321 + vi halaman ; 14.8 x 21 cm

ISBN : 978-602-99092-1

“…ENGKAU janganlah ragu menjadi sumber inspirasi berkat kemurnian jiwa dari pertapaanmu, kesunyianmu, kesendirianmu. Perlihatkanlah, pertontonkanlah dan tunjukkan kini sebagai suatu pengetahuan mutakhir wahai sang psikopat, sang penyair, dan sang pemabuk.” (hal 276)

SEBUAH novel yang liris tentang cinta yang berpuasa. Ditujukan bagi pembaca yang terbuka mata batinnya, karena hanya mereka yang terpilih yang dapat mengenal-Nya, yang kuasa menangkap bayang keindahan cinta itu. Agar manusia terhindar dari kesepian, kecemasan juga kehilangan hak miliknya.

INILAH pilihan cerita kisah cinta yang memantik spirit dari gelora seorang penulis yang terpercik oleh sebutir pengakuan Romo Zoetmulder bahwa dalam diri Raden Panji Kuda Waneng Pati, ia menjumpai gambaran mengenai Tuhan yang menampilkan diri di dalam dunia.

MEMANG novel ini mengendarai mitos Cerita Panji untuk menemukan kembali spirit dalam menangkap bayang keindahan cinta itu. Meski dalam balutan persoalan kemiskinan, penderitaan, keterasingan sebuah dinasti keluarga Mak Kaji Idayu Kiyati.

KISAH dalam novel ini dipenuhi detil jalan hidup mereka yang harus ditempuh dalam menggempur mitos yang bersulur padanya, dan menanam benih mitos barunya. Kisah tentang Lastri Srigati yang mewarisi keterasingan ibunya dan dipaksa kawin dengan Matjain—pria pemuja leluhurnya yang keturunan Sunan Bonang dan jatuh cinta pada klenik. Juga tentang arus jalan anak turunnya menuju alam cita di luar ruang dan waktu guna melintasi penderitaan dengan jalan keindahan tanha: Ujub Kajat yang cacat, Maya Durghata Karini yang pemberontak, dan Dalla Ringgit yang tak bergairah.

INILAH referensi anarkhisme tokoh-tokoh novel Tanha (yang dalam kosa kata Budhisme berarti segala hasrat, keinginan, cita-cita dan penderitaan membentuk esensinya). Sesat tapi hidup. Bebas tapi sulit dimaknai, meski bukan berarti kehilangan. Seorang individualis yang menawar pemberian Tuhan. Karena hanya dengan demikian ia bisa bercengkerama dengan dirinya juga dengan penguasa mitos dirinya.

…IZINKANLAH aku memasukimu, merasukimu, wahai jiwa-jiwa yang terlupakan…(Hal. 256)

Dikutip dari : http://tanhasebuahnovel.wordpress.com

:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar